Ridwan Kamil Berhasil Wujudkan Good Corporate Governance Sekelas Perusahaan Asing


Kepemimpinan Ridwan Kamil dinilai telah berhasil melakukan reformasi birokrasi, khususnya prilaku para Staf Pemkot Bandung.

Hal itu diungkapkan oleh pengalaman langsung yang dialami Randy Bagasyudha dari PGN (Perusahaan Gas Negara).

"Saya menemukan fakta bahwa pak RK telah berhasil mereformasi staf pemkot Bandung dengan standar GCG (Good Corporate Governance) sekelas perusahaan asing," kata Randy di lamanfacebooknya belum lama ini.

Randy menemukan dan sangat memberikan apresisasi tentang kejujuran dan sikap anti korupsi para staf pemkot Bandung ketika bersinggungan dengan pihak luar.

Berikut tulisan lengkap Randy Bagasyudha yang ditulis di akun Facebook pribadinya (29/9/2015):
 Begini ceritanya:

Tanggal 16 September saya dapat amanah dari PGN (Perusahaan Gas Negara) untuk menyelenggarakan funbike dan sharing session dengan pak RK. Walhasil saya berkoordinasi dengan staf Pemkot Bandung untuk menyiapkan segala halnya, dari mulai air minum, snack dan uang bantuan yang akan diberikan PGN kepada warga Bandung via pemkot Bandung. Total biaya Rp.105.200.000.

Dalam proses penyelenggaraan itu saya menemukan fakta bahwa pak RK telah berhasil mereformasi staf pemkot Bandung dengan standar GCG sekelas perusahaan asing. Kenapa demikian, ini faktanya:

1. “Rencana pemberian bantuan senilai 100 juta oleh PGN ditolak jika dalam bentuk uang. Khawatir tidak transparan, sebaiknya PGN belikan saja barangnya. Kami terima jadi dan serang terima langsung. Kalau mas kesulitan, biar saya pertemukan dengan pihak ketiga penyedia barangnya tapi transaksi langsung antara mas dengan dia (karena rencananya PGN akan memberikan alat penjernih sungai)” demikian ujar staf Pemkot Bandung.

Saya melaksanakan program CSR banyak kepada kota-kota lain, umumnya mereka akan sangat senang jika kita memberikan uang karena potensi korupsi besar. Namun kesan yang saya dapatkan dari Pemkot Bandung membuat saya kagum seolah saya tengah berhadapan dengan sebuah institusi profesional dengan sikap yang biasa saya temuai di perusahaan asing.

2. Ketika saya menyiapkan snack dan air minum untuk kegiatan funbike. Staf bu Lusi yaitu Bu Novi menawarkan diri sebagai penanggung jawab untuk membantu penyediaan snack namun anggaran tetap dari PGN karena memang acara PGN dengan mengundang RK. Jadilah saya transfer 5,2 Juta ke Bu Novi sesuai perhitungan beliau.

Singkat cerita, setelah kegiatan selesai, Bu Novi mengajak saya mengobrol. Firasat saya jika pada umumnya saya kerja sama dengan staf PNS kota lain maka sesi pertemuan diakhir acara itu adalah sesi “reimburse“, mereka akan bilang : “mas uangnya kurang buat ini bla bla, buat rokok satpam, bla ba“. Alhasil pada umumnya saya harus sedakan uang lagi yang harus saya bayarkan meskipun segala laporan uang kurang tadi tidak pernah ada buktinya.

Namun hal berbeda saya temui ketika saya berurusan dengan Bu Novi PNS Pemkot Bandung. Pada saat obrolan itu dia mengeluarkan laporan keuangan lengkap dengan bon-bon pembelian asli dari toko beserta uang kembalian sebesar Rp.142.000.

“Ini laporanya mas sama bon2nya lengkap semua, sama ini uang kembalianya” kata Bu Novi.

Saya bilang :”Ya sudah bu uangnya pegang aja buat OB atau Satpam“.

Bu Novi bilang : “Wah itu kan diluar perencanaan mas, tugas saya kan beli snack. Mas kasih aja sendiri“.

Untuk kedua kalinya saya terkejut dan terkagum-kagum atas sikap PNS Pemkot Bandung.

Sebelum saya pulang, iseng saya menanyakan ke Bu Novi perihal kejadian diatas. Dengan enteng Bu Novi bilang : “sesuai arahan Pak Wali Pak, kita harus kerja bersih, transparan dan tuntas“.

Dikala pemimpin kota lain koar-koar soal pemberantasan korupsi, namun sangat jauh terealisasi dilapangan oleh stafnya sendiri (Pasti taulah siapa yang saya maksud). Ternyata ada Pak Ridwan Kamil yang bekerja nyata dalam hening. Ini baru namanya BEKERJA!!

Salut untuk Pak Ridwan Kamil semoga selalu dalam lindungan Allah. Amin.

Randy Bagasyudha.

Sumber: Islamedia